pascasarjana universitas negeri yogyakarta

Detail Berita

Kerusakan Bentang Alam

2019-01-03 20:18:34
Deskripsi

Penambangan pasir Merapi 'ancam' lingkungan

Rohmatin Bonasir

Wartawan BBC Indonesia

10 Juni 2015

Penambangan semula hanya dibolehkan untuk mengambil pasir erupsi Merapi 2010 di sungai-sungai tetapi kemudian merambah ke lahan penduduk.

Pengerukan pasir di sungai-sungai lereng Gunung Merapi pascaerupsi tahun 2010 mendorong penambangan pasir ilegal. Pengerukan terjadi hingga ke lahan warga yang sebenarnya tidak diizinkan.

Beberapa sungai kering, antara lain Sungai Gendol di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang berhulu di Gunung Merapi, penuh dengan material vulkanik seperti batu dan pasir ketika Merapi meletus dahsyat lima tahun silam. Bencana itu menewaskan hampir 300 orang.

Karena kawasan itu sarat dengan material vulkanik, pemerintah mengijinkan masyarakat untuk mengeruk pasir dari sungai dengan menggunakan alat berat sehingga lahar bisa mengalir ke sungai dan tidak membanjiri lahan sekitar apabila gunung seaktu-waktu meletus.

Namun ijin penambangan hanya dikeluarkan untuk penambangan pasir di sungai.

"Selama kemarin dikendalikan, baik. Tidak ada dampaknya. Tetapi rupanya sekarang penambang-penambang bukan lagi di aliran sungai tetapi masuk ke lahan-lahan," kata Sapto Winarno, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral, Kabupaten Sleman.

"Akibatnya permukaan air tanah di sekitar Merapi mulai turun. Yang tadinya empat meter, sekarang sudah lebih dari empat meter."

Kepentingan ekonomi

Penambang
Selain pasir, material vulkanik yang mempunyai nilai ekonomi bagi warga adalah batu, tetapi kurang laris dibanding pasir.

 

Pihak berwenang mengaku telah melakukan razia terhadap penambang ilegal dan penggunaan alat berat seperti beko. Akan tetapi, pasir berwarna hitam hasil erupsi Gunung Merapi adalah komoditas berharga bagi penduduk di lereng gunung dan juga bagi pengusaha.

Satu truk pasir rata-rata berharga Rp500.000 bila dijual di tempat. Harga itu meningkat menjadi Rp800.000 per truk bila diantar sampai Kota Yogyakarta.

Pembeli pun datang dari berbagai kota di luar Yogyakarta, seperti Solo, Pati, dan Semarang untuk bahan bangunan.

Pemasukan ini penting bagi warga, kata Herry Suprapto, Kepala Desa Kepuharjo, salah satu desa yang kaya akan endapan pasir Merapi.

"Kami bersama empat kepala desa mengeluarkan keputusan untuk menambang di lahan untuk memulihkan ekonomi. Kedua, untuk mengambil deposit di lahan agar bisa segera ditanami," ujarnya.

Selama ini, tambahnya, tidak ada regulasi yang mengatur pengambilan pasir di lahan penduduk meskipun penambangan itu perlu dilakukan.

"Kami tidak menyalahkan pemerintah karena pada waktu itu pemerintah tidak mengeluarkan regulasi. Seandainya (pasir) belum diambil, sampai sekarang pun belum hijau seperti ini."

Pengambilan pasir
Pengambilan pasir sekarang hanya boleh dilakukan secara manual tanpa alat berat.

 

Ketika saya mengunjungi Cangkringan, kecamatan terdekat dengan puncak Gunung Merapi, penggalian pasir di lahan warga mudah ditemui, sementara penggalian di sungai yang seharusnya selesai masih berlangsung.

Lubang-lubang di tanah penduduk ada yang kedalamannya sampai lebih dari tujuh meter dan sudah mengambil deposit bukan hasil erupsi 2010 sebagaimana ditetapkan, sementara di sekelilingnya pohon-pohon tumbuh hijau.

Penambangan pasir seperti ini, kata Yusuf Sugihandono, seorang aktivis lingkungan dan pelaku pariwisata setempat, menimbulkan kerusakan.

"Dari pohon-pohon yang tidak bisa tumbuh lagi serta pemandangan lanskap yang amburadul seperti penambangan di luar Jawa. Air bersih juga sangat berkurang karena di daerah ini mencari air sulit.

"Jadi mengandalkan resapan pohon-pohon, kemudian digali atau dibor dan didistribusikan ke warga sehingga dengan adanya penambangan seperti ini, mata air mati."

Kerusakan di Merapi
Bekas penggalian pasir di lahan yang ditinggalkan setelah pasirnya habis.

 

Kerusakan sudah terjadi meskipun kerusakan skala besar mungkin masih dapat dicegah.

Kepala Seksi Penyediaan dan Konservasi Sumber Daya Air Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral Kabupaten Sleman Tri Widodo mengatakan untuk tahap sekarang yang dilakukan adalah penerapan larangan penambangan, dan pembangunan embung atau penampungan air.

alamat : https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/06/150609_majalah_merapi_pasir